Breaking
Ormawa

Bukan Sekadar Ziarah, DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah Ajak Mahasantri Bercermin dari Jejak Ulama Sumenep

10:50 WIB 75 kali dibaca 3 menit baca
D

Ditulis oleh

DEMA Ma'had Aly AlKarimiyyah

Bukan Sekadar Ziarah, DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah Ajak Mahasantri Bercermin dari Jejak Ulama Sumenep
Bukan Sekadar Ziarah, DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah Ajak Mahasantri Bercermin dari Jejak Ulama Sumenep

Sumenep, 29 Agustus 2026 — Ziarah tidak selalu berakhir di depan pusara. Bagi DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah, ziarah justru menjadi awal untuk melihat kembali perjalanan, perjuangan, dan keteladanan para ulama yang telah lebih dahulu mengabdikan hidupnya untuk agama dan masyarakat.

Gagasan itulah yang menjadi ruh dalam kegiatan Refleksi Maulid yang digelar DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah, Sabtu (29/8). Kegiatan tersebut dikemas dengan ziarah ke sejumlah makam tokoh dan ulama yang memiliki jejak penting dalam sejarah Sumenep.

Perjalanan dimulai dari Asta Pangeran Katandur, kemudian berlanjut ke Asta Tinggi Sumenep, dan ditutup dengan ziarah ke makam KH Abi Sudjak, salah satu tokoh yang turut merintis dan membawa Nahdlatul Ulama (NU) ke Sumenep.

Awalnya, kegiatan tersebut hanya dirancang sebagai Ikhtifal Maulid. Namun, DEMA kemudian melihat bahwa momentum Maulid Nabi dapat diisi dengan sesuatu yang lebih dari sekadar perayaan. Ziarah dipilih sebagai pintu masuk untuk mengenal kembali orang-orang yang telah meninggalkan jejak perjuangan di Sumenep.

“Sebenarnya awalnya kegiatan ini hanya Ikhtifal Maulid saja. Namun, kami merasa sangat pas kalau diisi dengan refleksi dan ziarah kepada para ulama. Apalagi sekarang merupakan bulan Maulid dan juga bertepatan dengan Muktamar NU. Ini tentu menambah keberkahan kegiatan ini, mengingat salah satu makam yang kita ziarahi adalah salah satu tokoh yang turut membawa NU ke Sumenep,” kata Wakil Presiden DEMA Ma’had Aly Al-Karimiyyah, Moh. Hayat, dalam diskusi refleksi di penghujung kegiatan.

Bagi Hayat, mengenang ulama tidak cukup dilakukan dengan mengetahui nama, tempat wafat, atau sejarah perjuangannya. Yang jauh lebih penting adalah menjadikan kehidupan mereka sebagai cermin.

Para ulama, menurutnya, meninggalkan warisan yang tidak hanya berupa ilmu, tetapi juga akhlak, keteguhan, kesabaran, dan pengabdian. Nilai-nilai itulah yang semestinya dibaca kembali oleh generasi muda, terutama para mahasantri.

“Mereka patut dijadikan contoh. Menelusuri kehidupan mereka dan kemudian mengimplementasikan akhlak mereka dalam kehidupan kita sehari-hari juga merupakan salah satu bentuk kita merayakan Maulid Nabi. Mereka sangat layak dijadikan teladan karena mereka adalah waratsatul anbiya’. Cerita dan perjuangan mereka juga sangat layak kita jadikan bahan untuk melakukan refleksi terhadap diri kita sendiri,” tegasnya.

Dari makam para ulama, para peserta diajak melihat persoalan yang justru ada dalam diri mereka sendiri. Apa yang sudah dilakukan? Apa yang masih kurang? Dan nilai apa yang mulai hilang dalam kehidupan generasi hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi bagian dari refleksi yang dilakukan pada akhir kegiatan.

Hayat menyebut refleksi sebagai sebuah “gerak mundur”. Namun, mundur yang dimaksud bukanlah menyerah atau berhenti. Sebaliknya, seseorang perlu sesekali menengok ke belakang untuk mengetahui sejauh mana perjalanan yang telah ditempuh, sebelum kembali menentukan langkah berikutnya.

“Refleksi atau gerak mundur ini harus dilakukan agar kita mendapatkan kekuatan baru untuk melangkah ke depan. Tentunya masih banyak hal yang harus kita evaluasi bersama. Karena seorang mukmin sejati tidak akan jatuh dalam satu jurang yang sama sebanyak dua kali,” ujarnya.

Dengan cara tersebut, Maulid Nabi tidak berhenti pada perayaan tahunan. Ia menjadi momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana kecintaan kepada Nabi telah diterjemahkan dalam akhlak dan perilaku sehari-hari?

Ziarah pun tidak lagi sekadar perjalanan menuju makam. Ia berubah menjadi perjalanan untuk membaca sejarah, mengenal perjuangan, bercermin kepada para pendahulu, lalu membawa pulang nilai-nilai yang masih relevan untuk kehidupan hari ini.

Sebab, menghormati orang-orang yang telah lebih dahulu berjuang bukan hanya dengan mengingat nama mereka, tetapi dengan meneruskan nilai yang mereka tinggalkan.

D

Kontributor

DEMA Ma'had Aly AlKarimiyyah

Bagikan berita ini: