Breaking
Artikel

NU bukan alat validasi

15:45 WIB 37 kali dibaca 2 menit baca
A

Ditulis oleh

Afkar Aulia AlHamdani

NU bukan alat validasi
NU bukan alat validasi

NU Bukan Alat Validasi Diri

“Kamu siapa?”
“Saya anak Nahdliyin.”
“Kamu dari golongan mana?”
“Saya juga anak Nahdliyin.”

Pertanyaan sederhana itu sebenarnya menyimpan persoalan yang lebih besar: mengapa kita masih sibuk mencari siapa yang paling berhak menyandang nama NU?

Nahdlatul Ulama bukan sekadar identitas yang ditempelkan pada nama, bukan pula simbol yang digunakan untuk memperkuat posisi seseorang dalam sebuah kontestasi. NU lahir dari tradisi keilmuan, perjuangan ulama, dan pengabdian kepada umat. Karena itu, akan menjadi ironi ketika nama sebesar NU justru dipersempit menjadi alat untuk memperoleh pengakuan, kekuasaan, bahkan kepentingan pribadi.

Hari ini, kita sering menemukan seseorang membawa nama NU ketika membutuhkan legitimasi. Ketika hendak mencalonkan diri, nama NU disebut. Ketika ingin mendapatkan dukungan, atribut NU ditampilkan. Ketika kepentingan pribadi sedang diperjuangkan, NU kembali dijadikan tameng.

Pertanyaannya sederhana: apakah NU sedang kita perjuangkan, atau justru sedang kita manfaatkan?

Menjadi Nahdliyin tidak semestinya diukur dari seberapa sering kita mengucapkan bahwa kita “anak NU”. Lebih penting dari itu adalah bagaimana nilai-nilai yang diwariskan para ulama tercermin dalam perilaku kita: tawadhu, keilmuan, keikhlasan, kepedulian kepada umat, serta keberanian untuk memperjuangkan kebenaran.

Sebab organisasi sebesar NU tidak seharusnya menjadi alat validasi diri. Ia bukan kendaraan politik pribadi, bukan tiket untuk terpilih, dan bukan stempel yang dapat digunakan untuk membungkus kepentingan individual dengan nama kepentingan umat.

Kita boleh berbeda pilihan, berbeda pandangan, bahkan berbeda jalan perjuangan. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita saling meniadakan dan merasa paling Nahdliyin.

Jangan bertanya siapa yang paling NU. Tanyakan siapa yang paling banyak memberi manfaat.

Karena pada akhirnya, menjadi Nahdliyin bukan tentang seberapa besar nama NU melekat pada diri kita, tetapi tentang seberapa besar nilai perjuangan NU hidup dalam diri kita.

NU terlalu besar untuk dijadikan alat kepentingan pribadi.
NU terlalu luhur untuk dijadikan sekadar label.
Dan NU terlalu berharga untuk diperebutkan hanya demi sebuah kursi.

A

Kontributor

Afkar Aulia AlHamdani

Bagikan berita ini: