Teman-teman tentu tidak asing dengan film Spider-Man, kan? Rasa-rasanya hampir semua orang familiar dengan kisah manusia bernama Peter Parker yang digigit oleh seekor laba-laba, lantas mendapatkan kekuatan super; tubuhnya bermutasi menjadi seperti laba-laba sehingga bisa mengeluarkan jaring-jaring yang kuat dan bisa dipakai sebagai senjata dalam menumpas kejahatan di kota New York.
Nah, menariknya, jauh sebelum Spider-Man populer, Al-Qur’an juga membahas tentang laba-laba, lho! Bahkan, laba-laba sampai dijadikan nama surah untuk mengabadikannya. Persisnya, ada pada ayat yang berbunyi:
مَثَلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا مِن دُونِ ٱللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ ٱلْعَنكَبُوتِ ٱتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ ٱلْبُيُوتِ لَبَيْتُ ٱلْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (Q.S. Al-‘Ankabūt: 41)
Pada ayat di atas, Allah Subhanahu wa Ta‘ala menyinggung bahwa sarang laba-laba merupakan sarang yang paling lemah. Memangnya, apa sih alasan Allah berfirman demikian? Kenapa Allah mengumpamakan sarang laba-laba sebagai sarang yang paling lemah? Dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang menarik untuk kita bahas.
Dalam Tafsīr al-Āyāt al-Kawniyyah, karya Prof. Dr. Zaghlūl Rāghib Muḥammad al-Najjār, Juz 2, halaman 416–418, dijelaskan bahwa sarang laba-laba secara struktur keseluruhan memang sangat lemah untuk sebuah sarang karena ia tidak bisa menaungi panas matahari, meneduhi air hujan, menahan embusan angin, atau melindungi dari predator-predator lainnya. Hal ini semakin didukung dengan konstruksi jaring laba-laba yang tipis dan bersilangan satu sama lain serta banyaknya ruang ant jaring.
Pada ayat di atas, ada detail menarik yang perlu diperhatikan. Allah Subhanahu wa Ta‘ala menggunakan sighat muannas dalam menginterpretasikan pembuatan sarang laba-laba. Faktanya, yang membangun sarang memang laba-laba betina karena pada tubuhnya terdapat kelenjar yang menghasilkan bahan sutra yang digunakan untuk membangun jaring atau rumah laba-laba. Sedangkan laba-laba jantan hanya berperan sebagai support system dalam hal membangun, menjaga, dan meluaskan sarang.
Namun, jangan salah paham dulu. Meskipun secara struktur sarang laba-laba terbilang lemah, secara material benang sutra laba-laba memiliki kekuatan yang luar biasa. Benang sutra yang digunakan dalam pembangunannya memiliki karakteristik material yang sangat mengagumkan. Benang laba-laba berukuran sangat kecil. Ketebalannya rata-rata sekitar satu per sejuta inci persegi, atau sekitar satu per empat ribu dari ketebalan rambut manusia. Meskipun sangat tipis, benang tersebut dikatakan memiliki kekuatan sekitar lima kali lipat dibandingkan baja dalam aspek tertentu. Benang sutra laba-laba juga memiliki ketahanan terhadap tarikan yang sangat tinggi, baik jika dibandingkan berdasarkan volume maupun berat materialnya.
Bahkan, sejumlah penelitian modern menunjukkan bahwa benang sutra laba-laba spesies Nephila yang termasuk genus orb-weaver, atau laba-laba pembuat jaring berbentuk lingkaran, memiliki kekuatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan Kevlar. Kevlar sendiri merupakan bahan sintetis berbasis polimer yang sering digunakan sebagai bahan utama rompi antipeluru dan berbagai alat pelindung modern lainnya.
Sehingga, sebuah ironi sangat tampak di sini. Secara material, penyusun jaring laba-laba merupakan material yang sangat kuat, sampai-sampai melebihi kekuatan bahan sintetis modern seperti Kevlar. Namun, di sisi lain, secara konstruksi bangunan, alias sarang, struktur laba-laba terbilang lemah dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi, fakta ini tetap tidak mengubah klaim Al-Qur’an yang menyebutkan sarang laba-laba sebagai sarang terlemah karena diksi yang dipakai di dalam ayatnya adalah diksi “rumah paling lemah”, bukan “benang paling lemah”. Aduhai, betapa indahnya Allah meletakkan detail-detail i‘jāz dalam firman-Nya!
Selain kelemahan dari segi mekanisme pertahanan, sarang laba-laba juga memiliki kelemahan dari sisi nonmaterial atau sosial. Rumah laba-laba digambarkan sebagai rumah yang jauh dari kata harmonis karena tidak adanya hubungan kasih sayang, ketenteraman, dan rahmat yang menjadi fondasi kehidupan keluarga.
Pada beberapa jenis laba-laba ditemukan adanya fenomena kanibalisme. Laba-laba betina dapat membunuh dan memakan laba-laba jantan setelah proses perkawinan atau pembuahan selesai (sexual cannibalism). Hal ini dapat terjadi karena ukuran tubuh laba-laba betina lebih besar dan sifatnya lebih agresif dibandingkan laba-laba jantan. Dalam beberapa kasus tertentu, laba-laba betina juga dapat memangsa anak-anaknya sendiri.
Pada spesies lainnya, laba-laba betina dapat mati setelah menyelesaikan proses reproduksi dan biasanya meninggalkan telur-telurnya di dalam kantung yang terbuat dari sutra. Ketika telur-telur tersebut menetas, anak-anak laba-laba (spiderlings) keluar dan mendapati dirinya berada dalam ruang yang sangat padat di dalam kantung telur.
Kondisi tersebut kemudian dapat memicu persaingan antarsaudara untuk memperoleh makanan, ruang, atau keduanya. Dalam proses tersebut, individu-individu yang lebih kuat dapat membunuh individu lainnya (cannibalism among siblings). Pada akhirnya, hanya sebagian kecil anak laba-laba yang bertahan hidup. Setelah mengalami pergantian kulit, mereka merobek dinding kantung telur dan keluar satu per satu untuk menyebar ke lingkungan sekitarnya.
Setelah meninggalkan kantung telur, masing-masing laba-laba betina kemudian memulai kehidupannya sendiri dengan membangun rumah atau jaringnya. Dalam perjalanan menuju tahap tersebut, sebagian dari anak-anak laba-laba tersebut tidak mampu bertahan hidup dan akhirnya mati.
Namun, jangan salah paham dulu. Tidak semua jenis laba-laba menunjukkan perilaku kanibalisme, kok! Ada juga beberapa jenis laba-laba yang menunjukkan perilaku menjaga, merawat, dan mengasuh anak-anaknya (maternal care) yang menarik. Misalnya, pada laba-laba serigala (Lycosidae), betina membawa kantung telur yang melekat pada tubuhnya, kemudian anak-anaknya yang telah menetas naik dan berlindung di tubuh induknya. Pada genus Amaurobius, induk betina menjaga telur dan anak-anaknya, bahkan pada beberapa spesies menyediakan makanan bagi keturunannya. Sementara itu, Toxeus magnus menunjukkan perilaku yang menyerupai menyusui karena induknya menghasilkan cairan bergizi yang berperan penting dalam pertumbuhan anak-anaknya.
Detail yang tak kalah menarik untuk diperhatikan adalah diksi “kalau mereka mengetahui” pada penutup ayat. Seakan-akan secara implisit Al-Qur’an ingin mengatakan bahwa hikmah pada ayat di atas tidak akan bisa terpecahkan secara sempurna pada saat ayat itu diturunkan, mengingat perkembangan sains dan ilmu pengetahuan lainnya yang masih belum maju seperti zaman sekarang. Dalam penjelasannya, Prof. Dr. Zaghlūl Rāghib menyatakan bahwa untuk mengungkap rahasia ayat tersebut dibutuhkan waktu puluhan tahun dan riset yang begitu mendalam dengan melibatkan ratusan ilmuwan, dan baru benar-benar terpecahkan pada akhir-akhir abad ke-20.
Walhasil, saat Al-Qur’an mengklaim bahwa “rumah laba-laba merupakan rumah yang paling lemah”, klaim tersebut bukanlah klaim kosong yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Malahan, butuh waktu dan riset yang sangat lama untuk mengungkapkan kebenaran di baliknya: fakta bahwa rumah laba-laba memiliki dua dimensi kelemahan, yakni dimensi material karena struktur rumahnya tidak memberikan perlindungan yang kuat, meskipun benang penyusunnya memiliki sifat mekanis yang luar biasa, dan juga dimensi sosial karena memperlihatkan perilaku reproduktif dan kompetisi yang jauh dari konsep kasih sayang, perlindungan, dan keharmonisan yang menjadi karakteristik keluarga manusia.