MAULID NABI: INGAT KELAHIRANNYA, LUPA SUNNAHNYA?
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (wahai Muhammad), jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku; niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali 'Imran: 31)
Pendahuluan: Sebuah renungan untuk umat
Setiap datang bulan Rabi'ul Awwal, masjid dipenuhi shalawat, majelis dipenuhi kisah kelahiran Nabi Muhammad ﷺ, dan lisan mengucapkan cinta kepada Rasulullah. Namun pertanyaan yang patut kita renungkan adalah:
Apakah kita hanya mengingat hari lahir beliau, atau juga menghidupkan sunnah beliau?
Inilah hakikat Maulid. Bukan sekadar mengenang tanggal kelahiran, tetapi menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai imam kehidupan: dalam ibadah, akhlak, keluarga, muamalah, hingga cara berbicara.
Allah tidak memerintahkan kita mengagumi Nabi semata, melainkan meneladaninya.
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang terbaik bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Apa yang dimaksud dengan Maulid Nabi?
Kata maulid (المولد) berarti tempat atau waktu kelahiran. Dalam istilah umat Islam, Maulid adalah kegiatan mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ melalui pembacaan Al-Qur'an, shalawat, sirah Nabi, doa, dan sedekah.
Ulama besar mazhab Syafi'i, Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam Al-Hawi lil Fatawa menjelaskan:
“Asal pelaksanaan Maulid ialah berkumpulnya manusia, membaca Al-Qur'an, meriwayatkan kisah awal kehidupan Nabi, kemudian memberi jamuan makanan. Hal itu termasuk bid'ah hasanah yang berpahala apabila isinya mengandung pengagungan kepada Nabi.”
Artinya, yang dinilai bukan nama acaranya, melainkan isi dan tujuannya.
Dalil bahwa kelahiran Nabi adalah nikmat yang disyukuri
Dalil paling kuat berasal dari hadis sahih riwayat Muslim.
Suatu hari Rasulullah ﷺ ditanya mengapa beliau berpuasa setiap hari Senin. Beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ فِيهِ
“Itulah hari aku dilahirkan dan hari aku diutus menjadi Rasul.” (HR. Muslim no. 1162)
Perhatikan dengan cermat: Nabi tidak merayakan kelahirannya dengan pesta, tetapi dengan ibadah sebagai bentuk syukur kepada Allah. Dari sinilah para ulama mengambil kaidah bahwa mensyukuri kelahiran Nabi adalah sesuatu yang memiliki landasan, selama dilakukan dengan amalan yang dibenarkan syariat.
Maulid tanpa sunnah: sebuah ironi
Banyak orang hafal syair Maulid, tetapi tidak hafal tata cara shalat Nabi. Banyak yang meramaikan peringatan Maulid, namun meninggalkan shalat Subuh berjamaah. Banyak yang menangis ketika mendengar kisah hijrah, tetapi mudah berdusta dalam muamalah. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى
“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”
Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan?” Beliau menjawab:
مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Siapa yang mentaatiku masuk surga, dan siapa yang mendurhakaiku sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menunjukkan bahwa ukuran cinta bukanlah emosi, melainkan ketaatan.
Lima sunnah yang paling sering terlupakan
Sunnah menjaga shalat berjamaah
Rasulullah ﷺ hampir membakar rumah orang yang sengaja meninggalkan jamaah. Ini menunjukkan betapa agungnya shalat berjamaah, khususnya bagi laki-laki. Maulid seharusnya menjadi momentum memperbaiki hubungan kita dengan masjid.
Sunnah memperbaiki akhlak
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur'an.” (HR. Muslim)
Akhlak Nabi bukan hanya senyum, tetapi juga: jujur ketika berdagang, lembut kepada keluarga, memaafkan musuh, menjaga lisan dari ghibah.
Sunnah mencintai Al-Qur'an
Nabi bukan hanya menyampaikan wahyu, tetapi hidup bersama Al-Qur'an. Rumah beliau dipenuhi tilawah, qiyamul lail, dan tadabbur. Maka peringatan Maulid yang benar akan melahirkan kebiasaan membaca Al-Qur'an setiap hari.
Sunnah memperbanyak shalawat
Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi…” (QS. Al-Ahzab: 56)
Shalawat bukan hanya dibaca saat Maulid, tetapi menjadi wirid harian seorang mukmin.
Sunnah menyebarkan rahmat
Allah menegaskan: “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya': 107)
Rahmat itu tampak dalam tindakan nyata: memberi makan orang miskin, menyantuni yatim, menghormati tetangga, memudahkan urusan orang lain.
Pendapat ulama tentang Maulid
Permasalahan Maulid termasuk persoalan khilafiyah ijtihadiyyah. Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani menyatakan bahwa asal Maulid tidak dilakukan generasi salaf, tetapi apabila isinya dipenuhi kebaikan dan dijauhkan dari kemungkaran, maka termasuk bid'ah hasanah. Imam as-Suyuthi kemudian menguatkan pendapat tersebut dan menjelaskan bahwa membaca Al-Qur'an, sirah, shalawat, serta memberi makan merupakan bentuk syukur yang berpahala.
Karena itu, yang harus dihindari bukan Maulidnya, tetapi kemaksiatan yang kadang menyusup dalam sebagian perayaannya.
Bagaimana menghidupkan sunah setelah Maulid?
Jadikan Maulid sebagai titik awal perubahan, bukan acara tahunan yang selesai dalam semalam. Ketika di momentum maulid terdapat pembacaan sirah, maka aplikasi sunahnya adalah dengan meneladani akhlaknya. Ketika terdapat shalawat, maka aplikasi sunahnya adalah dengan memperbanyak shalawat harian. Ketika terdapat majlis ilmu, maka penerapannya dengan mengkaji hadis setiap pekan. Ketika terdapat jamuan makanan, maka aplikasi sunahnya dengan bersedekah kepada fakir miskin atau orang yang membutuhkan. Ketika terdapat anjuran untuk mencintai Nabi, maka aplikasi sunahnya dengan taat kepada sunah beliau (.
Penutup
Mengingat kelahiran Nabi adalah kebaikan, tetapi menghidupkan sunahnya adalah tujuan. Jangan sampai rumah kita ramai dengan qasidah, namun sepi dari Al-Qur'an. Jangan sampai lisan kita penuh shalawat, namun perilaku kita jauh dari akhlak Rasulullah ﷺ.
Imam Malik rahimahullah berkata:
السنة سفينة نوح، من ركبها نجا ومن تخلف عنها غرق
“Sunah adalah bahtera Nabi Nuh; siapa yang menaikinya akan selamat, dan siapa yang tertinggal darinya akan tenggelam.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang bukan hanya mengenang Maulid Nabi, tetapi hidup dengan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Aamiin.
Penulis:
Wahyu Budi Triyantana (Saif Abu Nada)