Secara esensial, kemerdekaan dan persatuan adalah dua nikmat terbesar yang dilimpahkan Allah SWT kepada bangsa Indonesia. Kemerdekaan melahirkan ruang aman yang menjadi fondasi utama bagi seluruh aspek kehidupan—mulai dari keberlangsungan ibadah yang tenang, stabilitas ekonomi, hingga keharmonisan keluarga. Kondisi ini berbalik arah dengan realitas memprihatinkan yang dialami saudara-saudara kita di wilayah konflik seperti Palestina, di mana ketiadaan rasa aman mengancam kebebasan beribadah dan taraf hidup dasar.
Begitu krusialnya nilai sebuah keamanan, hingga Nabi Ibrahim AS menempatkan permohonan rasa aman sebagai prioritas utama dalam doanya sebelum memohon pemeliharaan iman dan kelimpahan rezeki. Hal ini terekam jelas dalam Al-Qur'an:
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala.'" (QS. Ibrahim [14]: 35)
Pesan senada termaktub dalam QS. Al-Baqarah [2] ayat 126, di mana keamanan ditempatkan sebagai prasyarat bagi kesejahteraan ekonomi suatu bangsa.
Di sisi lain, nikmat persatuan menjadi pilar penyokong integrasi nasional. Allah SWT secara tegas melarang perpecahan dan memerintahkan umat untuk berpegang teguh pada nilai-nilai keilahian (QS. Ali 'Imran [3]: 103). Persatuan bukan sekadar kondisi sosiologis, melainkan karunia yang menyelamatkan masyarakat dari jurang kehancuran.
Makna Hakiki Peringatan Kemerdekaan
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia sejatinya merupakan manifestasi rasa syukur atas nikmat keamanan dan persatuan tersebut. Dalam doktrin Islam, wujud syukur kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari sikap penghormatan dan penghargaan terhadap jasa sesama manusia. Rasulullah SAW bersabda:
"Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak menghargai dan berterima kasih atas jasa manusia." (HR. Abu Dawud)
Atas dasar itu, pahlawan dan syuhada yang telah mengorbankan harta serta nyawa demi memerdekakan bangsa ini patut mendapat tempat tertinggi melalui doa dan penghormatan moral.
Fenomena Desakralisasi dan Tantangan Moral
Sayangnya, dalam realitas lapangan, perayaan Peringatan Hari Besar Nasional (PHBN) kerap mengalami pergeseran nilai. Kegiatan hiburan masyarakat yang diselenggarakan sering kali justru diwarnai oleh tindakan yang bertentangan dengan norma etika dan keagamaan.
Beberapa hal krusial yang perlu menjadi perhatian bersama meliputi:
• Menodai Nilai Perjuangan Syuhada: Menyusupkan hiburan berbau kemaksiatan—seperti pertunjukan erotis dan tarian yang mengeksploitasi sensualisme serta memakai kostum atau melakukan aksi yang menjadi ciri khas lawas jenis—dalam agenda "Agustusan" merupakan bentuk pendangkalan nilai perjuangan pahlawan.
• Dampak Edukasi Negatif pada Generasi Muda: Mempertontonkan hiburan yang melanggar norma sosial dan agama di ruang publik akan merekam pola perilaku destruktif dalam memori kolektif anak-anak, yang berpotensi merusak karakter mereka di masa depan.
Rasulullah SAW telah meletakkan peringatan moral terkait degradasi busana dan etika berperilaku dalam ruang publik melalui hadis mengenai ancaman bagi golongan yang mengabaikan nilai-nilai kesopanan dan syariat dalam berbusana serta bertindak.
“Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat (di masa Rasulullah). Wanita-wanita berpakaian, tetapi mirip bertelanjang (karena pakaian terlalu tipis, terlalu ketat atau sangat minim), berjalan dengan berlenggak-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga, padahal bau surga bisa tercium dari begini dan begini.” (Shahih Muslim no. 3971)
Penutup: Mengembalikan Ruh Perayaan Kemerdekaan
Perayaan kemerdekaan hendaknya dijadikan momentum penguatan nilai karakter bangsa, bukan panggung bagi tindakan yang mereduksi nilai-nilai luhur agama dan budaya. Memelihara keadaban publik (public morality) dalam setiap perayaan kemerdekaan adalah bentuk penghormatan paling nyata terhadap darah para pahlawan.
Mari kita jaga diri, keluarga, dan lingkungan dari pengaruh perayaan yang destruktif. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan perlindungan, menjaga persatuan, dan membimbing bangsa Indonesia agar senantiasa menjadi negeri yang bersyukur, aman, dan bermartabat.
Mustahiq Ma’had Aly al-Karimiyah Prodi Tafsir wa Ulumuhu, Awardee LPPD Jatim 2020 (STITA) & 2025 (Universitas Annuqayah)