Menyelaraskan Syariat, Realitas, dan Kesadaran Ilahi
Oleh: Muhammad Affan
Manusia modern hidup dalam putaran roda yang berputar sangat cepat. Bangun pagi, bekerja, mengejar target, pulang dalam keletihan, lalu esok harinya mengulang pola yang sama seolah hidup hanyalah rangkaian rutinitas mekanis tanpa jiwa. Di tengah kesibukan itu, ada satu luka yang hampir selalu dirasakan setiap orang yaitu kekecewaan mendalam ketika realitas hidup tidak berjalan sesuai harapan. Usaha yang sudah dikerahkan habis habisan kadang berbuah hasil yang jauh dari bayangan. Doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati kadang dijawab dengan cara yang tidak pernah kita duga. Di sinilah sesungguhnya letak persoalan besar yang dihadapi manusia hari ini, bukan soal kurangnya usaha, melainkan soal hilangnya kesadaran akan hakikat hubungan antara ikhtiar dan kehendak Allah.
Islam sejak awal telah menyiapkan jawaban atas kegelisahan ini. Jawaban itu terangkum indah dalam sebuah hadits agung yang dikenal para ulama dengan sebutan Ummussunnah, induk dari segala sunnah, karena memuat keseluruhan struktur ajaran agama dalam satu dialog sakral. Hadits itu adalah Hadits Jibril. Dalam riwayat yang masyhur, malaikat Jibril datang menyerupai seorang lelaki asing lalu bertanya kepada Rasulullah tentang tiga hal mendasar yaitu Islam, Iman, dan Ihsan. Tiga jawaban Rasulullah atas pertanyaan itu bukan sekadar materi hafalan dalam kitab kitab hadits, melainkan peta hidup yang lengkap bagi siapa saja yang ingin menjalani kehidupan dengan utuh, tenang, dan bermakna.
Ada banyak guru yang mengajarkan hadits ini secara tekstual, namun tidak banyak yang berhasil menerjemahkannya menjadi bahasa yang dekat dengan keseharian kita. Salah satu yang berhasil melakukan itu adalah Dr. KH. M. Afif Hasan, M.Pd., Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Utara, seorang kyai sekaligus akademisi yang selama ini dikenal luas karena kegemarannya meramu ajaran ajaran klasik menjadi kalimat kalimat pendek yang mudah diingat namun berat maknanya. Dalam beberapa kesempatan pengajian, dua kalimatnya kerap terngiang di benak siapa saja yang mendengarnya.
Kalimat pertama berbunyi bahwa setiap gerak gerik kita semua harus ada unsur Allahnya (dalam rangka Allah) . Kalimat kedua menegaskan bahwa realita dan fakta merupakan petunjuk dari Allah, apapun saja yang terlewat dari kita. Sekilas kedua kalimat itu terdengar sederhana, bahkan mungkin pernah terlintas juga di benak kita sendiri tanpa pernah sempat dirumuskan sejelas itu. Namun begitu direnungkan lebih dalam, keduanya justru menjadi jembatan yang menghubungkan teks suci nan agung dengan denyut kehidupan sehari hari yang paling nyata. Melalui jembatan itulah tulisan ini mengajak kita menengok kembali trilogi Islam, Iman, dan Ihsan, bukan sebagai konsep teologis yang mengawang di langit, melainkan sebagai peta hidup yang sesungguhnya sudah lama kita jalani, hanya saja belum pernah kita sadari betul maknanya.
Mari kita mulai dari dimensi pertama, Islam. Ketika Jibril bertanya tentang Islam, Rasulullah menjawab dengan menyebut lima perkara yaitu bersyahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunaikan haji bagi yang mampu. Kelima perkara ini bersifat fisik dan lahiriah, dapat dilihat, dapat diukur, dan menjadi kerangka syariat yang mengatur gerak tubuh manusia. Namun kerangka fisik ini akan menjadi kosong dan hampa apabila tidak disertai ruh di dalamnya. Di titik inilah kalimat Dr. KH. M. Afif Hasan, M.Pd. tadi terasa begitu pas menemani. Setiap gerak gerik kita semua harus ada unsur Allahnya, katanya, dan kalau dipikir pikir, itu berarti setiap langkah kaki menuju tempat kerja, setiap lembar buku yang dibuka saat belajar, setiap kalimat yang diucapkan dalam pergaulan sosial, semuanya bisa disertai niat karena Allah semata.
Bekerja bukan sekadar mencari nafkah, melainkan ibadah. Belajar bukan sekadar mengejar ijazah, melainkan bentuk syukur atas akal yang dianugerahkan. Berinteraksi dengan sesama bukan sekadar basa basi sosial, melainkan wujud silaturahmi yang bernilai pahala. Manakala unsur Allah hadir dalam setiap gerak, maka rutinitas yang tadinya terasa hambar berubah menjadi ladang ibadah yang tak pernah kering. Namun hidup tidak berhenti pada gerak dan ikhtiar semata. Setelah manusia bergerak, bekerja, dan berusaha sekuat tenaga, ada satu wilayah yang sama sekali bukan milik manusia yaitu wilayah hasil akhir. Di sinilah dimensi kedua, Iman, berperan sebagai jangkar yang menahan jiwa agar tidak terombang ambing.
Dalam penjelasan panjang tentang rukun Iman, Rasulullah menutup dengan penegasan penting yaitu beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk. Penegasan ini bukan kebetulan diletakkan di akhir, sebab di sanalah letak ujian keimanan yang paling berat. Manusia hanya diberi kuasa untuk menggerakkan ikhtiar, sedangkan hasil akhir sepenuhnya berada dalam genggaman kehendak Allah. Ketika seseorang benar benar meyakini hal ini, hatinya akan terjaga dari dua bahaya besar yaitu kesombongan saat meraih keberhasilan dan keputusasaan saat menghadapi kegagalan. Iman kepada takdir bukan alasan untuk berpangku tangan, melainkan bekal ketenangan setelah seluruh daya upaya telah dikerahkan.
Sampai di titik ini, sesungguhnya perjalanan spiritual belum selesai. Ada satu tingkatan lagi yang jauh lebih tinggi dan lebih halus, yaitu Ihsan. Ketika Jibril bertanya tentang Ihsan, Rasulullah memberikan jawaban yang begitu radikal dan mengguncang kesadaran yaitu hendaklah engkau menyembah Allah seakan akan engkau melihatNya, dan jika engkau tidak mampu melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu. Kalimat ini melahirkan konsep yang dalam ilmu tasawuf dikenal dengan istilah muraqabah, yaitu kesadaran terus menerus bahwa diri kita senantiasa berada dalam pengawasan Allah. Dan di sinilah kalimat kedua Dr. KH. M. Afif Hasan, M.Pd. tadi kembali terngiang, bahwa realita dan fakta merupakan petunjuk dari Allah, apapun saja yang terlewat dari kita.
Bayangkan seseorang yang telah bekerja keras mengejar sebuah impian, namun di ujung jalan impian itu justru luput dari genggamannya. Bagi orang yang belum sampai pada kesadaran Ihsan, respons pertama yang muncul biasanya adalah penyesalan berkepanjangan dengan kalimat andai saja aku melakukan ini, andai saja aku memilih itu. Kalimat andai saja inilah yang justru menjadi sumber derita berkepanjangan, sebab manusia terjebak menyesali sesuatu yang sudah menjadi ketetapan. Namun bagi jiwa yang telah hidup dengan kesadaran Ihsan, kacamata yang digunakan sama sekali berbeda. Ia memandang setiap fakta yang terjadi hari ini, baik pahit maupun manis, sebagai pesan langsung dari Allah yang sedang mengarahkan hidupnya menuju jalan yang lebih selamat. Kegagalan bukan lagi musibah yang harus diratapi, melainkan petunjuk yang harus dibaca dengan penuh kesadaran. Kehilangan bukan lagi akhir dari segalanya, melainkan pintu menuju babak baru yang lebih baik yang belum tentu mampu dijangkau oleh akal manusia yang terbatas.
Ketika trilogi Islam, Iman, dan Ihsan ini benar benar tertanam dalam diri seseorang, buahnya akan terasa nyata dalam kehidupan sehari hari. Pertama, lahir ketangguhan jiwa yang luar biasa. Seseorang akan terhindar dari stres kronis dan kecemasan berlebihan karena ia meyakini bahwa skenario Allah tidak pernah salah alamat. Kedua, lahir keikhlasan bertindak yang murni. Ia tidak lagi haus akan pujian manusia dalam setiap langkahnya, sebab fokus utamanya hanyalah menghadirkan unsur Allah dalam setiap proses yang ia jalani. Ketiga, lahir akhlak mulia kepada sesama. Kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap interaksi sosial akan melahirkan pribadi yang jujur, adil, dan penuh kasih sayang kepada siapa pun yang ia temui.
Pada akhirnya, Hadits Jibril sebagai Ummussunnah telah memberikan struktur yang begitu utuh bagi kehidupan manusia. Islam mengatur gerak fisik kita agar selalu berada dalam koridor syariat. Iman menjaga keteguhan hati kita agar tidak goyah oleh gejolak hasil akhir. Dan Ihsan menyempurnakan seluruh kesadaran spiritual kita hingga mampu membaca setiap kejadian sebagai petunjuk yang penuh kasih sayang dari Allah. Dua kalimat sederhana dari Dr. KH. M. Afif Hasan, M.Pd. yang kita bahas sejak awal tulisan ini pada akhirnya bukan sekadar untaian kata indah untuk dikutip sesekali, melainkan jembatan yang menghubungkan teks suci yang agung itu menuju ruang praktis yang bisa dijalani oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Barangkali tidak perlu menunggu waktu khusus untuk mulai menghadirkan unsur Allah dalam setiap gerak gerik ikhtiar kita, dan tidak perlu menunggu hati benar benar lapang untuk mulai belajar membaca setiap realita serta fakta, sepahit apa pun itu, sebagai petunjuk dan kasih sayang Allah yang sedang menuntun kita menuju jalan pulang yang paling selamat. Cukup mulai dari hari ini, dari gerak yang paling kecil sekalipun.
Santri PP. Annuqayah Lubangsa Utara dan mahasiswa pascasarjana Universitas Annuqayah