Bulan Rabiul Awwal—yang oleh sebagian orang dimaknai sebagai musim semi pertama—merupakan bulan yang memiliki vibes istimewa dalam sanubari umat Islam. Pada bulan ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dilahirkan. Berbagai macam bentuk ekspresi cinta dan kerinduan kepada beliau digelar, dan pada tanggal 12 Rabiul Awwal, ekspresi cinta itu seakan mencapai puncaknya.
Setiap musala, masjid, atau pondok pesantren tanpa dikomando menggelar selawat bersama. Segala macam kidung puji-pujian dilantunkan dengan syahdu, mulai dari Selawat Diba' karya Abdurrahman ad-Diba'i, Al-Barzanji karya Ja'far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji, Simthud Durar karya Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi, dan masih banyak lagi selawat lainnya.
Salah satu komponen istimewa dalam perayaan bulan Maulid adalah berbagai macam buah-buahan yang dihidangkan di tengah-tengah majelis. Namun, setelah doa Maulid selesai, sontak buah-buahan yang mulanya tersusun rapi ludes tak bersisa: pindah ke dalam sarung, saku baju, atau plastik yang memang sedari awal telah disiapkan.
Pada momentum inilah kita sering menyaksikan tindakan-tindakan yang kurang terpuji. Mulai dari saling sikut saat memperebutkan buah, melempar makanan yang dianggap tidak menarik secara rasa, hingga aksi berebut yang kadang membuat suasana majelis berubah menjadi arena persaingan. Euforia dalam memperebutkan buah, ditambah rasa takut tidak mendapatkan bagian, menjadi pemicu mengapa sebagian orang—lebih-lebih anak-anak kecil—begitu gigih melakukannya.
Bahkan yang lebih parah, terkadang “peperangan” itu pecah sebelum doa dibacakan. Kyai atau ustaz yang memimpin selawat terpaksa dengan legawa menunggu jamaah kondusif terlebih dahulu. Bayangkan, betapa ironisnya: orang yang sedang memimpin pembacaan sejarah dan pujian kepada manusia paling mulia justru harus menghentikan sejenak majelis karena jamaahnya sibuk berebut hidangan.
Ironis.
Beberapa menit sebelumnya kita bersama-sama membaca selawat. Kita mendengarkan sirah Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang menggambarkan betapa agung akhlak beliau. Kita memuji kelembutan, kesabaran, kasih sayang, dan kemuliaan beliau. Tetapi beberapa menit kemudian, sebagian dari kita justru mempertontonkan perilaku yang bertolak belakang dengan akhlak yang baru saja kita lantunkan.
Lalu, apa sebenarnya yang sedang kita rayakan?
Apakah kita sedang merayakan kelahiran Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, atau sekadar menunggu kapan makanan boleh diperebutkan?
Islam bukan hanya agama yang mengajarkan bagaimana seseorang beribadah kepada Allah. Islam juga agama akhlak. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.
Maka menjadi sebuah ironi ketika selawat yang seharusnya menjadi jalan untuk melembutkan hati justru berakhir dengan sikut-sikutan. Majelis yang seharusnya menjadi tempat meneladani Rasulullah berubah menjadi arena berebut makanan. Bacaan yang seharusnya membuat kita semakin santun malah disusul dengan tindakan yang membuat orang lain tidak nyaman.
Bukan selawatnya yang salah. Bukan pula Maulidnya yang keliru. Yang perlu kita koreksi adalah perilaku kita setelahnya.
Buah itu halal. Mengambilnya juga bukan sebuah dosa. Bahkan menyediakan makanan untuk jamaah adalah perbuatan baik. Yang menjadi persoalan adalah ketika sesuatu yang baik dilakukan dengan cara yang buruk.
Sebuah hidangan yang disediakan dengan niat berbagi jangan sampai berubah menjadi alasan untuk saling menyakiti. Sedekah jangan sampai melahirkan kerakusan. Majelis selawat jangan sampai melahirkan kegaduhan.
Sebab masalahnya bukan terletak pada apa yang kita ambil, tetapi bagaimana cara kita mengambilnya.
Dan di sinilah peran orang dewasa menjadi sangat penting.
Anak-anak memang belum sepenuhnya memahami bagaimana menjaga adab dalam sebuah majelis. Mereka masih belajar. Mereka melihat, meniru, kemudian mengulangi. Kalau setiap kali Maulid mereka melihat orang dewasa ikut berebut, berdesakan, bahkan mengambil makanan sebanyak-banyaknya sebelum orang lain mendapat bagian, jangan heran jika perilaku itu kemudian mereka anggap sebagai sesuatu yang wajar.
Lebih berbahaya lagi ketika orang dewasa hanya tertawa melihatnya.
“Namanya juga anak-anak.”
Kalimat semacam itu terdengar sederhana, tetapi jika terus diulang, ia bisa menjadi pintu menuju normalisasi perilaku buruk.
Anak yang hari ini berebut buah mungkin tidak sedang melakukan kejahatan besar. Tetapi jika tidak pernah ditegur, ia sedang belajar sebuah pesan yang jauh lebih berbahaya: bahwa ketika ada kesempatan mengambil sesuatu, berebut adalah hal yang wajar.
Hari ini buah Maulid. Besok mungkin sesuatu yang lebih besar.
Karena pendidikan akhlak memang sering kali tidak dimulai dari perkara-perkara besar. Ia dimulai dari hal-hal kecil: bagaimana mengambil makanan, bagaimana mengantre, bagaimana memberi kesempatan kepada orang lain, bagaimana menerima bagian yang sedikit, dan bagaimana menahan diri ketika melihat sesuatu yang kita sukai.
Maka jangan hanya sibuk mengajari anak membaca selawat. Ajari pula mereka bagaimana berakhlak sebagaimana orang yang diselawatinya.
Jangan hanya marah ketika anak tidak hafal Diba'. Marahlah dalam arti mendidik dengan tegas ketika ia mulai menyikut temannya demi mendapatkan buah.
Jangan hanya bangga ketika anak mampu melantunkan Barzanji dengan suara merdu. Banggalah ketika setelah Barzanji selesai, ia mampu duduk tenang, mengambil makanan secukupnya, dan menyisakan bagian untuk orang lain.
Sebab Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak hanya ingin dikenang melalui syair-syair pujian. Beliau ingin diteladani melalui akhlak. Dan teguran orang dewasa dalam situasi seperti ini bukan berarti merusak suasana Maulid. Justru sebaliknya, teguran yang tepat adalah bagian dari menjaga kehormatan majelis.
Kalau anak mulai berebut, jangan hanya ditertawakan.
Tegur.
Kalau mulai saling sikut, jangan dibiarkan.
Pisahkan.
Kalau ada yang melempar makanan karena tidak menyukainya, jangan dianggap lucu.
Nasihati.
Kalau ada yang mengambil berlebihan, ajarkan bahwa masih ada jamaah lain yang memiliki hak untuk mendapatkan bagian.
Sebab kalau perilaku itu terus dibiarkan atas nama “tradisi”, pada akhirnya kita bukan sedang mempertahankan tradisi, tetapi sedang mewariskan kebiasaan buruk kepada generasi berikutnya.
Maulid seharusnya menjadi momentum untuk memperbanyak selawat sekaligus memperbaiki akhlak. Jangan sampai kita begitu sibuk menghitung berapa kali nama Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam disebut dalam majelis, tetapi lupa menghitung berapa kali akhlak beliau benar-benar kita praktikkan setelah majelis selesai.
Jangan sampai lisan kita berselawat, tetapi tangan kita menyikut. Jangan sampai mulut kita memuji kelembutan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tetapi tubuh kita menyerobot hak orang lain. Jangan sampai kita menangis ketika mendengar kisah kasih sayang beliau, tetapi beberapa menit kemudian kita tertawa melihat orang lain berebut makanan.
Karena cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam tidak cukup hanya dibuktikan dengan suara yang merdu ketika berselawat. Cinta harus melahirkan keteladanan. Kalau memang kita mengaku mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, mari kita buktikan setidaknya dari hal yang paling sederhana: belajar menahan diri, belajar berbagi, belajar menghormati orang lain, dan belajar menjaga adab.
Sebab boleh jadi buah yang kita perebutkan itu hanya sepotong pisang, jeruk, atau apel yang harganya tidak seberapa. Tetapi cara kita mendapatkannya bisa menjadi cermin tentang seberapa jauh selawat yang kita lantunkan telah menyentuh akhlak kita.
Maka, setelah qiyam selesai, jangan sampai yang bangkit hanya tubuh kita. Semoga akhlak kita juga ikut bangkit.
Dan semoga setelah majelis Maulid berakhir, yang tertinggal bukanlah bekas injakan, makanan yang berserakan, dan suara anak-anak yang bertengkar karena berebut buah melainkan akhlak Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang sedikit demi sedikit hidup kembali di tengah-tengah kita.